Jumat, 02 Desember 2016

STUDY KASUS
Tulisan ini merupakan penjelasan singkat tentang metode penelitian studi kasus. Studi kasus merupakan salah satu metode yang bisa digunakan dalam sebuah penelitian, khususnya ilmu-ilmu sosial. Namun, masih banyak metode lain yang dapat seorang peneliti gunakan untuk meneliti dibidang sosial seperti : eksperimen, survei, historis, dan analisis informasi yang terdapat dalam sebuah dokumen. Meskipun demikian, penggunaan setiap metode dalam sebuah penelitian memiliki tingkat kemudahan dan kesulitan tersendiri bagi penelitinya, hal ini disebabkan oleh jenis-jenis pertanyaan penelitian, fokus fenomena terhadap penelitian, dan handil yang dimiliki peneliti terhadap suatu peristiwa yang ingin ditelitinya. Secara umum studi kasus adalah sebuah penelitian yang umumnya menggunakan pertanyaan “bagaiman (how) dan mengapa (why).”
Penelitian studi kasus dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu: eksplanatoris, eksploratoris, dan deskriptif. Metode penelitian ini sudah sering digunakan dikalangan peneliti untuk meneliti kasus-kasus sosial seperti: a. penelitian kebijakan, ilmu politik, dan administrasi umum, b. Psikologi masyarakat dan sosiologi, c. Studi-studi organisasi dan manajemen, d. penelitian perencanaan tata kota dan regional, e. Pengerjaan berbagai disertasi atau tesis dalam ilmu-ilmu sosial lainnya. (Prof. Dr. Robert K. Yin. 2009 hal 1-2, ed revisi)
Penggunaan metode penelitian studi kasus dikelompokkan kedalam tiga tahapan: mendefenisikan sebuah kasus, sebagaimana yang dimaksudkan defenisi ialah mengartikan, hal ini bertujuan supaya seorang peneliti lebih menguasai topik dan objek penelitiannya. Tahapan selanjutnya ialah memilih tipe desain studi kasus dari empat tipe yang ada, secara umum studi kasus memiliki dua desain yang dikenal dengan sebutan studi kasus tunggal dan studi kasus multikasus. Desain penelitian studi kasus merupakan keterkaitan antara sumber, data, dan informasi yang harus dikumpulkan oleh peneliti dengan pertanyaan awal yang telah dirancangnya. Metode ini memiliki empat aspek kualitas desain yang harus dimaksimalkan oleh peneliti, yaitu: 1. Validitas konstruk, 2. Validitas internal, 3. Reliabilitas. Tahapan akhir ialah penggunaan teori dalam desain penelitian. Penulisan beberapa teori ahli dalam sebuah kasus penelitian khususnya untuk mempermudah peneliti dalam memahami kasus dan mempermudah pembaca dalam memahami hasil dari penelitian itu sendiri. 
Sebuah penelitian tak pernah lepas dari beberapa data dan sumber-sumber yang berfungsi untuk memperkuat dan mendukung penelitian tersebut. Sebagai seorang peneliti yang menggunakan metode penelitian studi kasus, ia dapat memperoleh berbagai data dan sumber yang berasal dari dokumen, rekaman arsip, wawancara, pengamatan langsung, observasi partisipan, serta perangkat-perangkat fisik. Dalam penggunaannya diperlukan keterampilan dan keahlian serta prosedur metodelogis yang berbeda. Perlu diingatkan bahwasanya teknik wawancara memiliki istilah open-ended dalam penyusunan pertanyaannya. Maksud dari istilah tersebut ialah, peneliti dapat meminta narasumber untuk memberikan pendapatnya secara pribadi dan pewawancara bisa mengembangkan bentuk pertanyaan berdasarkan dari jawaban yang diberikan olehnya. Teknik pengumpulan data yang menggunakan observasi langsung, adakalanya seorang peneliti ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung hal ini dimaksudkan supaya ia dapat lebih memahami ketika memberikan uraian tentang data yang diperolehnya. Tak jarang pula para peneliti akan menetap pada suatu tempat yang ingin ditelitinya. 

Menganalisis data dalam metode studi kasus Stake (Creswell, 1998:63) mengungkapkan empat bentuk analisis data beserta interpretasinya dalam penelitian studi kasus, yaitu: (1) pengumpulan kategori, peneliti mencari suatu kumpulan dari contoh-contoh data serta berharap menemukan makna yang relevan dengan isu yang akan muncul; (2) interpretasi langsung, peneliti studi kasus melihat pada satu contoh serta menarik makna darinya tanpa mencari banyak contoh. Hal ini merupakan suatu proses dalam menarik data secara terpisah dan menempatkannya kembali secara bersama-sama agar lebih bermakna; (3) peneliti membentuk pola dan mencari kesepadanan antara dua atau lebih kategori. Kesepadanan ini dapat dilaksanakan melalui tabel  yang menunjukkan hubungan antara dua kategori; (4) pada akhirnya, peneliti mengembangkan generalisasi naturalistik melalui analisa data, generalisasi ini diambil melalui orang-orang yang dapat belajar dari suatu kasus, apakah kasus mereka sendiri atau menerapkannya pada sebuah populasi kasus (http://nurhibatullah.blogspot.co.id)..Tahap menganilis data studi kasus merupakan tahapan yang terbilang sulit untuk dilaksanakan, hal ini dikarenakan ada beberapa tahapan yang perlu diikuti dalam proses penyusunannya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam proses ini peneliti perlu menanyakan kembali hasil analisanya kepada subjek studi kasus yang telah ditelitinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar